RSS

Tarbiyah Siyasiyah dalam Persefektif Dakwah

04 Mei

Oleh :

SATYA ADITYA

Disampaikan pada Acara TaqTik KAMMI UHAMKA Rabu, 6 Juni 07

 

Apakah Politik Selalu Buruk?

Itulah yang harus dimengerti kaum muslimin secara benar. Persepsi yang keliru terhadap politik tentu melahirkan sikap-sikap yang keliru pula. Secara teoritis, siyasah merupakan ilmu yang penting dan memiliki kedudukan tersendiri. Secara praktis, politik merupakan aktivitas yang mulia dan bermanfaat karena berhubungan dengan peng-organisasian urusan makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Imam Ibnul Qayyim mengutip perkataan Imam Abu Wafa Ibnu Aqil al Hanbali bahwah siyasah merupakan tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang lebih dekat dengan kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan selama politik tersebut tidak bertentangan dengan syara.

Ibnul Qayyim mengatakan, Sesungguhnya, politik yang adil tidak akan bertentangan dengan syara, bahkan sesuai dengan ajarannya dan merupakan bagian darinya. Dalam hal itu, kami menyebutnya dengan siyasah karena mengikuti istilah anda. Padahal, sebenarnya dia adalah keadilan Allah dan Rasul-Nya. Para ulama kita terdahulu telah memaparkan nilai dan keutamaan politik sehingga Imam al Ghazaly pernah berkata, Dunia merupakan ladang akhirat. Agama tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan dunia. Pemimpin dan agama merupakan anak kembar. Agama merupakan dasar dan penguasa merupakan penjaga. Sesuatu yang tidak memiliki dasar tentu akan runtuh dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga tentu akan hilang.

Hal yang perlu diingat adalah dulu tidak ada pemisahan secara fungsional antara ulama dan penguasa. Para penguasa masa lalu khulafaur Rasyidin- adalah ulama dan tokh umat sekaligus negarawan andal pada masanya. Utsman bin Afan Ra pernah berkata, Kezaliman yang tidak dapat dilenyapkan Alquran akan Allah Swt lenyapkan melalui tangan penguasa. Rasulullah Saw adalah negarawan- seperti diakui banyak orentalis- disamping pemimpin agama, muballigh, pengajar dan hakim. Beliau adalah panutan Khulafaur Rasyidin. Namun saat ini, tidak sedikit umat Islam yang alergi politik dan segala yang berhubungan dengannya. Hal itu menimpa kalangan awam hingga orang alimnya, bahkan ada beberapa jamaah Islam yang amat menjauhkan politik dari manhaj gerakan mereka. Alasan mereka, politik dapat mengotori hati dan pikiran. Ada pula yang beralasan dakwah politik bukanlah dakwah salafush shalih dan kami bukan dai-dai politik. Mereka menyitir ucapan Ibnu Taimiyah, Saya bukan politikus walau saya mengkaji masalah-masalah politik.

Hal itu mungkin terjadi karena hasil pantauan mereka terhadap politik selama ini selalu menunjukkan gejala yang buruk. Orang-orang yang terlibat di dalamnya dapat bergeser orientasi politiknya menjadi politik imperialis, berkhianat dan semena-mena. Apalagi, setelah panggung politik dunia dirasuki politik Machiavelli yang menghalalkan segala cara, semakin menjadi-jadilah kebencian mereka terhadap politik. Mereka begitu akrab dengan ucapan Muhammad Abduh, Aku berlindung kepada Allah dari masalah politik, dari orang yang menekuni politik dan terlibat urusan politik serta dari orang yang mengatur politik dan dari orang yang diatur politik.

Sebaiknya, kaum muslimin memilah secara shafi (jernih) antara politik syari dan Machiavelli sekaligus memilah politisi bersih dari politisi kotor. Jangan sampai ada oknum-oknum politisi atau doktrin politik yang semena-mena membuat pandangan jernih kita tertutup, lalu membuat kesimpulan keliru secara umum tentang politik. La haula wala quwwata illa billah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2012 in Tarbiyah

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: